Selamat datang ...

inilh rumahku, pintuku, jendelaku, buat bercerita kepada siapa saja semauku...
maka dengarlah kawan-kawan ...

Entri Populer

Laman

Total Tayangan Halaman

Entri Populer

Powered By Blogger

Kamis, 03 Juni 2010

bye Friend

Kamis, 3 Juni 2010 10:19 AM

Tak Semua mimp itu indah, namun ketika mimpi buruk tiba, tak ada yang dapat dilakukan selain berdoa agar mimpi buruk itu tak menjadi kenyataan ….

Itulah, seberkas kata yang kini mengiang-ngiang di telaingaku meski aku tak tau sebenarnya kata itu kudapatkan dari mana. Hanya itu pelipur ku, hanya itu yang mampu menjadi kata bijak yang menentramkan saat ini. kata itu bukan dari sahabat, teman, kekasih, bahkan orang tua dan saudara-saudaraku.
Dunia bagiku berputar 180 derajat entah ke arah mana. Berbalik ke satu hal dan bidang yang tentunya baru untukku. Sangat mendramatisir jika aku katakan ini ujian yang sangat berat dan aku tak sanggup untuk menjalani itu semua. Tapi memang ini adalah ujian terbaru untukku, bahkan aku yakin ini adalah cobaan. Kesulitan yang baru kualami dan sanagt baru untukku.
Untuk pertama kalinya aku kehilangan teman, tanpa aku pernah tau apa penyebabnya. Dia begitu jauh padaku, meski aku ada di sampingnya. Rasaku tak lagi jadi rasanya, begitupun langitnya tak lagi jadi langitku. Bintangku tak lagi jadi bintangnya, dan bulanku tak lagi jadi miliknya. Kami hidup terpisah dalam satu dunia yang hanya disekat oleh dinding kaca. Nampak, namun tak pernah lagi merasa.
Tak ada kata-kata, dan caanda itu pudar jadi hampa yang sangat menykitkan. Aku tak pernah tau, apakah ini melukainya atau tidak. Aku pun tak tau apakah luka ini hanya milikku seorang dan aku sendirilah yang menancapkan luka itu di relungku. Aku tak tau, dan aku tak pernah mau tau meski sesungguhnya aku merasa ingin ingin tau.
Temanku melayang dan menyisakan luka yang membiru. Di ujung lidahnya, di sudut matanya, kutemukan bisa yang siap menyerang. Aku bukan lagi aku yang dulu baginya, namun mungkin srigala yang mampu menerkamnya. Tapi sungguh, aku bukan itu. Aku hanya tak ingin menyentuh lagi lukaku yang biru karenanya. Aku ingin enyah dan mengobati semuanya.
Aku ingin berjalan sendiri kawan, pergi ke dukun patah yang mengobati patah kakiku, pergi ke rumah cantik untuk aku rileks sebentar, duduk di bawah mahoni yang rindang untuk istirahat sejenak. Aku rela kawan, bahkan sangat rela jika kau anggap aku tak ada, karena nyatanya jiwa ku telah melayang. Aku hanya punya raga, aku hanya punya luka. Aku tak lagi punya tawa, atau benda lucu yang siap kau tertawakan.
Aku kini hanya bahan cerita kawan, yang siap kau cibirkan pada siapa saja. Aku hanyalah bekas luka yang pasti akan segera kau lenyapkan.
Maaf kawan, mungkin kita tak lagi sejalan. Aku akan membiarkanmu berjalan di ring mu sendiri, dan jangan pernah lagi menjenguk ringku meski nyatanya telah hancur.
Air mata ini, adalah sebuah akhir yang pastinya tak akan pernah hadir lagi. Air mata ini, adalah air mata terakhir milikku. Sumur air mataku telah kering, dan aku tak tau apakah Tuhan bersedia mengisinya dengan air yang baru.
Aku adalah lembaran tisu yang telah kau pakai dan telah lusuh. Aku tau itu tak berguna lagi, dan kau bersiap untuk menghanyutkannya di aliran sungai terdalam yang pernah kau temui. Selamat tinggal kawan, aku akan segera tiba di muara dan bersiap untuk berlayar di laut berombak. Aku akan pergi bersama nelayan, dan tak tau kapan aku akan kembali …
Wassalam …!

Tidak ada komentar:

Posting Komentar