Selamat datang ...

inilh rumahku, pintuku, jendelaku, buat bercerita kepada siapa saja semauku...
maka dengarlah kawan-kawan ...

Entri Populer

Laman

Total Tayangan Halaman

Entri Populer

Powered By Blogger

Jumat, 20 November 2009

Janjiku Menanti Cinta

Hanya tak ingin terjebak pada cinta yang dangkal. Cinta sesaat yang kemudian pudar dan menguap entah kemana. Sama seperti yang lain, aku mengharapkan cinta sejati yang hadir dalam hidupku. Cinta yang kekal. Yang tak pernah mati, yang tak pernah surut bahkan tak berkurang sedikitpun meski dunia berubah seperti apa bahkan ketika aku terlepas dari onggokan ragaku.
Cinta yang sebenarnya, cinta yang tak pernah melihat fisikku seperti apa. cinta yang tak pernah menilai apa yang bisa kuberi. Cinta yang tak pernah memperhitungkan cara berjalanku, cara bicaraku, bahkan caraku menyantap es krim kesukaanku. Cinta yang tak pernah menuntutku untuk melalukan apapun kecuali menjaga cintaku. Cinta yang hanya mengibahku untuk tetap setia. Cinta yang tak pernah membuatku mabuk hingga lupa pada Tuhanku.
Bukan cinta yang istimewa, hingga selalu membungkuk ketika cinta itu mengetuk pintu hatiku. Namun aku hanya butuh cinta yang sederhana. cinta yang lahir dengan kata yang sederhana, dengan hasrat yang sederhana. Tanpa napsu, tanpa amarah bahkan emosi. Tanpa hasrat yang menggebu untuk membuatku tunduk pada cinta. Bukan cinta yang mengekang. Tapi yang membiarkanku berjalan, terbang, dan meraih bintangku.
Cintaku, cinta sederhana dengan hasrat yang sederhana. tanpa paksaan dan hanya ada bumbu ketulusan dan keikhlasan di dalamnya. Cinta yang kupunya tanpa embel-embel apapun kecuali ketulusan dan kesetiaan. Cinta yang kupegang erat, ku simpan dan kuletakkan dalam kotak rahasia yang suatu saat akan kuserahkan pada orang yang berhak menerimanya. Yang hanya akan membawa pahala dalam fitrah kehidupanku, yang menyulam hidupku jadi cerminan surga dan menjadikan setiap gerak dan langkahku adalah pahala untuk ku.
Ia tak lain adalah suamiku kelak. Penebar kebahagiaan dan tempat berteduh bagiku dan anak-anakku ketika kami lelah. Bahu dimana aku mampu bersandar dan membagi cerita bahagia senja ini bersama putra dan putriku. Tong sampah yang siap kujadikan luapan kebahagiaanku, menjadi tangan anak kecil yang setiap pagi menengadahkan tangannya untuk diberi sangu harapan.
Dia, lelaki sejati calon suamiku dan entah dimana keberadaannya sekarang. Allah masih menyelimutinya dengan awan. Suatu saat Ia akan membuka awan itu untukku. Tak tau kapan. Entah dihari ulang tahunku atau bahkan dalam waktu aku terjepit menghadapi sakaratul maut. Lelaki itu, lelaki yang selalu kunanti. Pilihan terbaik dari Tuhanku. Lelaki terbaik yang tak akan membuatku takut menghadapi ajalku.
Lelaki itu, penerang surga untukku karena setiap langkah dan tuturku adalah pahala yang diturnkan Allah untukku. Ia lelaki terbaik, yang akan selalu kunanti meski ia dalam jihad dan membawa senjata sekalipun.
Untukmu, lelaki terbaik pilihan sang Gusti. Kan kujaga segala kesucian untukmu. Meski kadang bermandi air mata, meski peluh mengguyur diri. Jiwaku telah kunapkahkan untukmu. Kan kujaga lisanku, segala sudut pandangan mataku, fitrahku, dan segala yang kupunya. Segalanya untuk mu, suamiku kelak. Janjiku tak kan kuingkari bahwa setiap detik dan setiap jengkal milikku adalah milik mu.
Tak banyak yang mampu kujanjikan untukmu. Bukan kecantikan, bukan harta, bukan pula kepandaian yang luar biasa seperti tuntutan agama ketika memilih calon istrimu. Tapi aku hanya punya segenggam harapan untukmu. Harapan akan tanggung jawab dan kesetiaanmu membawaku dalam pangkuan surga. Hanya penantian tulus yang mampu kuberikan sekarang. Semoga kau mampu menhargainya dan membayarnya dengan ketulusanmu pula. Semoga selalu dalam lindungan dan ridho Tuhanku.
Kau akan selalu kunanti, dalam deburan ombak, dalam hembusan angin, dalam rentetan doaku, dan dalam tasbih yang kulafazkan di setiap dzikirku.


Buat calon suamiku … penantian dan do’a ini tak pernah putus

Tidak ada komentar:

Posting Komentar