Aku hanyalah wanita sederhana, yang dilahirkan oleh wanita sederhana, dari keluarga sederhanya yang berfikir secara sederhana dan fleksibel. Orang tuaku memberiku nama Susi Lestari, dan ketika aku bertanya akan arti dari namaku, mereka hanya tersenyum dan berkata “nama mu cantik, pakai lestari”. Hanya sepenggal kalimat itu. Tak lebih. Lalu ketika kutanya mengapa memilih nama itu, mereka bilang “karena nama itu cantik”
Hanya kata-kata itu. Tak lebih. Satu yang mampu kutangkap adalah bahwa dalam namaku ada keindahan. Hanya itu. Tak ada alasan lain seperti nama-nama orang lain yang mengandung do’a. Tidak ada filosofi nama adalah doa buat kedua orang tuaku. Mereka tak pernah menganut itu. Bahkan nama kedua kakak ku pun entah dari mana dipetik, entah menjumput ide siapa aku tak tau. Mereka tak bisa disalahkan karena tak menganut filosofi itu. Mereka adalah mereka, dengan segenap kekurangan yang mereka punya, dengan kelebihan yang mereka punya meski tak menonjol.
Keindahan seperti yang dikatakan orang tuaku, nyatanya tak pernah melekat dalam diriku. Tak ada keindahan, tak ada yang istimewa. Biasa, bahkan tak layak disebut biasa. “nggak masuk rekor”, kata teman-temanku. Nyatanya memang iya, lestari yang bisa diasumsikan sebagai indah, asri, dan sejuk tak ada dalam diriku. Aku tak pernah merasa indah. Sungguh. Mungkin itu yang menjadikan aku semakin minder, autis dan pendiam.
Aku yang salah dalam hidupku. Aku yang menjadikan aku seperti ini. Aku yang mengotori jiwaku hingga ada hal-hal negatif dalam hidupku. Aku tak pernah berani menghadapi dunia, tak berani berkata benar pada hal yang tidak salah, tak berni berkata salah pada hal yang tidak benar. Sungguh aku pengecut karena tak berani melangkah pada hal yang kuanggap baik. Menjadi pengecut ketika aku tak berani mengungkapkan apa yang kurasa, apa yang tak pernah kusuka. Sungguh aku pengecut.
Tak ada yang salah pada hidupku. Pada orang tuaku, pada kedua kakakku, pada Tuhan, bahkan pada nasib sekalipun. Aku tak pernah menyalahkan sesuatu ketika aku gaduh pada jiwaku, pada segenap sukmaku yang meronta karena terkekang. Pada sejumlah keahlianku yang aku begitu egois untuk mematikannya. Sungguh biadab aku ini, ketika segenap kesempatan tak pernah kuberikan pada diriku.
Jiwa dan ruh ku berdemonstrasi. Memintaku untuk mengembalikan segenap kesempatan yang telah kurampas dan hanya kumasukkan ke dalam tong sampah. Pada tanganku yang hanya kugantung tanpa pernah merasa bersalah. Pada otakku, yang begitu muak merasakan kejahilanku, pada kesempatan yang tersisa. Segalanya. Segalanya menjadi sia-sia ketika tanggung jawab kuabaikan.
Aku gila, aku tak mampu menjawab segala pertanyaan jiwaku. Aku biadab. Aku menghancurkan harapan jiwaku. Jiwa yang haus ilmu, haus akan tempat berteduh, haus akan belaian cinta yang ia inginkan. Aku egois, aku tak pernah menghiraukan jeritan jiwaku. Sungguh biadab. Apa yang kumau?
Tidakkah aku jerah ketika jiwa pernah merantaiku dengan rasa bersalah yang sungguh dalam? Mengapa aku begini? Tak pernah jerah pada kesalahan dan dosa meskipun telah meminta ampun?
Aku ingin membuang segalanya di closet. Menyiramnya dan tak pernah melihatnya kembali lagi. Aku tak pernah mengingat papatah anggun lima perkara senbelum lima perkara.
Sia-sia, adalah kata yang tak pernah aku mau melekat di hatiku. Tak boleh ada kata itu. Satu yang mungkin dapat kutebus adalah tidak memasukkan rasa bersalah dan kecewaku pada jiwaku. Hanya itu. Tidak boleh ada kata penyesalan. Semua harus berakhir, dan memulai untuk hal yang baru. Dunia yang baru tanpa boleh terbayang pada kesalahan di masa lalu. Harus ada tanggung jawab dalam diriku, harus disiplin. Yang berlalu biar berlalu, dan bercermin pada kesuksesan dan keindahan orang lain agar termotivasi untuk menggerakkan langkahku yang sempat terhenti. Hanya itu. Segalanya akan berubah jika aku selalu memiliki niat dan tekat. Tuhan tak pernah pergi, Tuhan tak pernah membiarkan hambanya terluka, merana dan menjadi pengecut. Tapi Tuhan selalu ada ketika kau dekat padanya. Hanya itu. Lima perkara sebelum lima perkar, agar tak ada yang sia-sia.
cercauku di balik pena yang terus menggores dan kaki yang tak henti melangkah ...
Selamat datang ...
inilh rumahku, pintuku, jendelaku, buat bercerita kepada siapa saja semauku...
maka dengarlah kawan-kawan ...
maka dengarlah kawan-kawan ...
Entri Populer
Laman
Total Tayangan Halaman
Entri Populer
-
Pagi2 pagi aku bangun, cuma sholat, trus nongkrong depan tivi sampek siang. jam 8 aku baru buat sarapan. gak tau apa yang mau aku kerjain. s...
-
ini tak lagi berguna berkata-kata di depan cermin aku hanya akan menemukan lukaku yang merah, membiru kau menuai tawa diatas tangisku menuai...
-
untuk mereka yang kalah dalam pesta ini ... Inilah saat yang kau tunggu itu Waktu yang terbayang Hingga termimpi di sepanjang tidurmu Inilah...
-
BAB I PENDAHULUAN Dewasa ini pemerintah menghadapi berbagai kendala dalam rangka peningkatan kualitas pendidikan. Ketidakmerataan mutu guru ...
-
Tanya itu kini mengaung-ngaung di telingaku. terlalu lama ia singgah di benakku, tapi aku tak pernah tau apa jawaban dari semua itu. yang ak...
-
Hanya tak ingin terjebak pada cinta yang dangkal. Cinta sesaat yang kemudian pudar dan menguap entah kemana. Sama seperti yang lain, aku men...
-
Kamis, 3 Juni 2010 10:19 AM Tak Semua mimp itu indah, namun ketika mimpi buruk tiba, tak ada yang dapat dilakukan selain berdoa...
-
BAKSO RAKSASA, OTOT RAKSASA Senin pagi mata ku sembab. Bahkan bisa dibilang bengkak. Bagian atas seperti diisi air, dan kelopak yang bawah k...

Tidak ada komentar:
Posting Komentar